Pencemaran Lautan Merusak Ekosistem dan Kesehatan

Polusi atau pencemaran di lautan terus meluas, memburuk, dan di banyak negara tidak terkontrol dengan baik. Polusi yang terdiri dari campuran kompleks berbagai substansi mulai dari logam beracun, plastik, bahan kimia hasil manufaktur, minyak bumi, limbah perkotaan dan industri, pestisida, pupuk, bahan kimia farmasi, limpasan pertanian, dan limbah rumah tangga, kotoran manusia, terus menumpuk di dalam laut.

Perilaku yang menjijikkan ini terus berlangsung tanpa solusi yang paripurna akibat perilaku “aneh” manusia yang terus merusak lingkungan mereka sendiri. Padahal manusia menyadari, dampak berbahaya pencemaran ini akan berbalik mengurangi kualitas hidup dan merugikan kesehatan mereka, serta anak cucu mereka di masa datang.

Temuan, dampak berbahaya dan solusi pencemaran lautan ini diuraikan secara detil dalam kajian terbaru berjudul “Human Health and Ocean Pollution” yang diterbitkan Jurnal Annals of Global Health. Philip J. Landrigan dari Boston College, Amerika Serikat mempimpin penelitian ini.

Tim peneliti menemukan, lebih dari 80% polusi di lautan berasal dari daratan. Polusi ini mencapai lautan melalui sungai, limpasan, pengendapan dari atmosfer dan pembuangan langsung ke laut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Polusi terbanyak ditemukan di dekat pantai dan terkumpul di sepanjang pantai di negara-negara miskin dan berkembang. Tim peneliti mencatat, polusi plastik meningkat paling pesat. Diperkirakan 10 juta metrik ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahun.

Selain plastik, laut juga terus didera oleh pencemaran logam berat yaitu merkuri. Pencemaran ini menurut tim peneliti dilepaskan dari dua sumber utama – pembakaran batu bara yang membawa racun merkuri melalui asap pembakarannya serta dari penambangan emas skala kecil.

Pertanian skala industri di seluruh dunia juga turut mencemari lautan dengan meningkatnya penggunaan pupuk kimia yang memicu perluasan alga yang berbahaya yang bisa meracuni spesies ikan dan kerang, serta menciptakan zona-zona mati atau “dead zones” di lautan. Menurut tim peneliti, polutan-polutan kimiawi ini ditemukan mencemari laut dan organisme laut di mana-mana, dalam jurang terdalam, hingga ke benua Arktika di Kutub Utara.

Dampaknya terhadap Ekosistem

Polusi laut berdampak negatif pada ekosistem laut. Dampak ini diperburuk oleh perubahan iklim global. Menurut tim peneliti, polutan berbasis minyak bumi akan menghambat fotosintesis pada mikroorganisme laut yang menghasilkan oksigen.

Sementara itu peningkatan penyerapan karbondioksida (CO2) oleh organisme di laut akan menyebabkan peningkatan keasaman air laut, merusak terumbu karang, mengganggu perkembangan kerang, membunuh mikroorganisme yang menjadi sumber kalsium bagi seluruh jejaring makanan di laut. Peningkatan penyerapan CO2 juga akan meningkatkan efek racun (toksisitas) beberapa polutan.

Polusi plastik mengancam mamalia laut, ikan, dan burung laut. Polusi plastik di lautan ini terus terbawa arus dan terakumulasi di pusaran laut yang besar. Plastik ini akan terurai menjadi partikel mikroplastik dan nanoplastik yang mengandung bahan kimia yang mencemari jaringan organisme laut, termasuk spesies yang dikonsumsi oleh manusia. Pencemaran industri, limpasan, dan limbah rumah tangga akan meningkatkan pertumbuhan alga yang berbahaya, polusi bakteri, dan resistensi anti-mikroba.

Polusi dan peningkatan suhu permukaan air laut memicu migrasi patogen berbahaya seperti spesies Vibrio (bakteri gram-negatif) ke arah kutub yang lebih dingin. Tim peneliti menyimpulkan, limbah industri, limbah farmasi, pestisida, dan limbah manusia berkontribusi pada penurunan global stok ikan yang akan menurunkan kesejahteraan nelayan di seluruh dunia, termasuk di negara maritim Indonesia.

Dampak bagi Kesehatan

Kini saatnya membahas dampak polusi lautan bagi kesehatan. Tim peneliti menemukan, pembuangan sampah dan limbah yang mengandung logam berat seperti methylmercury dan PCBs akan merusak kesehatan mulai dari bayi yang masih dalam kandungan hingga manusia dewasa.

Bayi yang masih dalam kandungan terpapar polutan saat ibu yang tengah mengandung mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi oleh logam berat ini. Dampaknya dahsyat! Polusi logam berat dapat merusak perkembangan otak, menurunkan kecerdasan anak/IQ, dan meningkatkan risiko autisme, ADHD, dan gangguan belajar pada anak.

Sementara paparan methylmercury terhadap orang dewasa akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan demensia. Bahan-bahan kimia lain – yang diproduksi dari sampah plastik – dapat mengganggu sinyal endokrin, mengurangi kesuburan pria, merusak sistem saraf, dan meningkatkan risiko kanker.

Alga-alga yang berbahaya juga menghasilkan racun kuat yang terakumulasi dalam ikan dan kerang. Saat tertelan, racun ini bisa menyebabkan kerusakan saraf yang parah dan kematian yang cepat. Racun dari alga yang berbahaya juga bisa menyebar melalui udara dan memicu penyakit pernafasan. Sementara infeksi bakteri laut patogen menyebabkan penyakit gastrointestinal dan infeksi luka dalam.

Perubahan iklim dan peningkatan polusi juga akan meningkatkan risiko penyebaran infeksi Vibrio (bakteri gram-negatif), yang menyebabkan berbagai penyakit seperti kolera, ke wilayah-wilayah baru. Yang paling dirugikan menurut tim peneliti adalah populasi yang miskin dan rentan di belahan dunia bagian selatan atau yang dikenal dengan nama Global South (wilayah Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Oseania), memicu ketidakadilan lingkungan dalam skala planet.

Tim peneliti menyimpulkan, pencemaran laut adalah masalah global. Pencemaran muncul dari berbagai sumber dan melintasi batas negara. “Ini adalah konsekuensi dari eksploitasi sumber daya bumi secara sembrono, picik, dan tidak berkelanjutan,” tulis mereka. Perilaku manusia ini membahayakan ekosistem laut, menghambat produksi oksigen atmosfer, meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia. “Masih banyak yang belum sepenuhnya memahami masalah ini,” tulis para peneliti. Sementara itu, “Kerugian ekonominya baru mulai dihitung.”

Kabar baiknya, menurut tim peneliti, tentu saja, pencemaran laut dapat dicegah. Seperti semua bentuk pencemaran, pencemaran laut dapat dikendalikan dengan menerapkan strategi berbasis data berdasarkan hukum, kebijakan, teknologi, dan penegakan hukum yang menargetkan sumber pencemaran prioritas.

Banyak negara telah menggunakan alat ini untuk mengontrol polusi air dan udara dan sekarang menerapkannya untuk polusi laut. Keberhasilan yang dicapai hingga saat ini menunjukkan peluang untuk melakukan kontrol terhadap polusi di lautan. Ada pelabuhan yang sangat tercemar telah berhasil dibersihkan, muara diremajakan, dan terumbu karang dipulihkan.

Selain manfaat kesehatan, pencegahan pencemaran laut juga menciptakan banyak manfaat. Seperti meningkatkan ekonomi, pariwisata, membantu memulihkan perikanan, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia, mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Manfaat ini akan bertahan selama berabad-abad,” tulis mereka.

Adalah hal yang bodoh jika kesalahan terus berulang, kebijakan yang gagal terus dipertahankan, pengetahuan dan hasil riset tidak dimanfaatkan untuk mencegah kerusakan lebih parah di lingkungan dan lautan.

Untuk itu, tim peneliti merekomendasikan kepada para pemimpin dunia, yang menyadari beratnya pencemaran laut, untuk mengakui bahaya dari pencemaran lautan yang terus meningkat ini. Mereka diharapkan melibatkan masyarakat sipil dan masyarakat global, dan mengambil tindakan berani berbasis bukti, untuk menghentikan pencemaran dari sumbernya! Yang akan sangat penting untuk mencegah pencemaran laut dan menjaga kesehatan manusia.

Solusi

Menurut tim peneliti, pencegahan polusi dari sumbernya yang berbasis lahan adalah kuncinya. Menghilangkan pembakaran batu bara dan melarang semua penggunaan merkuri akan mengurangi polusi merkuri. Larangan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah plastik yang lebih baik akan mengurangi polusi plastik. Larangan pemakaian polutan organik yang persisten (POPs) telah mengurangi polusi dari PCB dan DDT.

Pengendalian pembuangan industri, pengolahan limbah, dan pengurangan pemakaian pupuk kimia mampu mengurangi pencemaran pantai dan mengurangi pertumbuhan alga-alga yang beracun dan berbahaya. Program pengendalian pencemaran laut secara nasional, regional dan internasional ini harus didanai secara memadai dan didukung oleh penegakan hukum yang kuat. Tim peneliti menyatakan, upaya pemantauan yang ketat sangat penting untuk melacak kemajuan dari upaya-upaya ini.

Intervensi selanjutnya yang diperlukan adalah transisi dalam skala luas ke energi terbarukan; transisi ke ekonomi sirkular yang adil dan hemat sumber daya; beralih ke bahan-bahan kimia yang ramah lingkungan dan membangun kapasitas ilmiah di semua negara.

Pemerintah juga diminta untuk menetapkan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang akan menjaga ekosistem kritis, melindungi stok ikan yang rentan, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia. “Pembentukan KKP merupakan perwujudan penting dari komitmen nasional dan internasional untuk menjaga kesehatan laut,” tulis tim peneliti.

Bahaya sudah dipaparkan, manfaat dijabarkan, solusi sudah diberikan. Komitmen yang besar diperlukan untuk mengeksekusi solusi-solusi tersebut untuk meningkatkan kualitas – tidak hanya lingkungan – namun juga manusia. Perilaku dan mental mereka!

Redaksi Hijauku.com